A.
Sejarah Pesantren
Pesantren adalah sebuah pendidikan
tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan
guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk
tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga
menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan
lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi
keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pondok
Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian.
Umumnya, suatu
pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat,
kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari
semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok
atau asrama di samping rumah kyai. Pada zaman dahulu kyai tidak merencanakan
bagaimana membangun pondoknya itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana
mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri. Kyai
saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh
para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana. Mereka menempati sebuah
gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kyai.
Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubug yang didirikan. Para
santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga
menjadi terkenal ke mana-mana, contohnya seperti pada pondok-pondok yang timbul
pada zaman Walisongo.
B.
Profil Pondok Pesantren Nurul
Islam (Pungging-Mojokerto)
Seiring tuntunan zaman
akan lahirnya generasi Islam yang tangguh, cerdas dan berakhlak mulia dengan
mempertahankan Sibghoh (karakter) Pesantren, maka Pondok Pesantren Nurul Islam
Pungging konsisten dalam pendidikan santri-santrinya dengan teguh memegang
prinsip dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah serta beikhtiar melakukan
adaptasi dengan dunia modern melalui pemanfaatan teknologi dan segala fasilitas
penunjangnya sebagai implementasi dari falsafah “Al Muhafadhotu ‘Ala Qodimis
Sholih wal Akhdzu bil Jadidil Aslah” (menjaga nilai-nilai kuno/tradisional yang
baik, dan mengambil nilai-nilai baru/modern yang lebih baik).
KH. Ahmad Siddiq, SE. MM. pendiri pondok pesantren Nurul Islam Pungging
Mojokerto, mengambil pola pembentukan karakter santri dengan menggabungkan rana
metode salafiyah yang khas dengan materi kurikulum pendidikan nasional yang
unggul. Dengan begitu Pondok Pesantren Nurul Islam tidak hanya sebagai lembaga
pendidikan semata, melainkan lembaga kepelatihan, lembaga keilmuan, lembaga
bimbingan keagamaan, lembaga pemberdayaan masyarakat dan pada gilirannya
menjadi simpul budaya.
Untuk mewujudkan harapan mulia tersebut, pembelajaran di PP. Nurul
Islam Pungging dikelola dengan managemen profesional melibatkan Guru/Asatidz
yang kompeten dibidangnya (lulusan perguruan tinggi-pesantren ternama di
Indonesia maupun luar negeri dan berkualifikasi S1, S2)
Tabel
Kepuasan Konsumen
Pondok
Pesantren Nurul Islam
No.
|
Nama
|
Pendapat
|
hasil
|
||
SB
|
B
|
CB
|
|||
1
|
M. Masubandi
|
dari mulai metode pendidikannya yang baik disisi lain kedisiplinan juga
sangat baik dan seluruh kegiatanya berjalan dengan profesional
|
√
|
||
2
|
M. Rico Maulana
|
baik karena di ponpes ini juga di ajarkan ilmu leadership yang membuat
saya tertarik
|
√
|
||
3
|
M. Ainur R
|
Baik secara sistem dan baik secara pelaksanaan karena disini kedewasaan
seorang anak itu di pertimbangkan
|
√
|
||
4
|
Candra Aditya P
|
terkait dengan pelayanan pengurus terhadap santri sangat baik karena
mulai dari hal yang remeh itu mampu dihendel oleh pengurus
|
√
|
||
5
|
M. Irfan Amiruddin
|
saya kagum kepada pengasuh yang mana bersungguh-sungguh dalam mendidik,
merawat dan memperjuangkan masa depan santrinya
|
√
|
||
6
|
M. Al-Farizi
|
saya kerasan disini karena sistem pendidikanya yang baik tempat yang
bersih dan nyaman
|
√
|
||
7
|
Deva Arya Pradana
|
sangat baik karena di tempat ini saya tahu makna perjuangan yang hakiki
|
√
|
||
8
|
M. Miftachus Surur
|
√
|
|||
9
|
M. Daffa' Isroqul
|
saya sudah kerasan disini karena disini mas-mas musrif telah membimbing
dengan ikhlas.
|
√
|
||
10
|
saya disini sudah mulai kerasan karena disini saya bisa meningkatkan
bakat saya
|
√
|
|||